.

BAGAIMANA MENJADI GURU SEPANJANG MASA

BAGAIMANA MENJADI GURU SEPANJANG MASA

PENCERAHAN HATI

Alhamdulillaah..., Maha Suci Allah Yang Maha Pemilik Segala Puji atas pertolongan dan bimbingannya penulis dapat menggoreskan tinta dalam lembaran kertas putih tentang guru-guru yang telah menginspirasi dunia pendidikan bagi setiap manusia yang haus akan ilmu pengetahuan, lapar akan keterampilan dan bergegas akan perubahan dari keadaan yang kurang menjadi lebih baik lagi di masa depannya menjadi manusia yang cerdas, beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.

Warna dunia tak kan seindah seperti saat ini dimana Allah Swt menciptakan guru dalam kehidupan manusia untuk
mendidik sesama manusia, mengajak manusia menjadi lebih beradab, menyeru manusia berpindah dari situasi biasa ke area yang luar biasa dalam kehidupan nyata, belajar untuk mengetahui ilmu dan memahami fenomena hidup, belajar melakukan perilaku akhlak mulia dan menerapkan teknologi, belajar hidup bersama sesama manusia dan lingkungan hidup, serta belajar untuk memperbaiki kualitas hidup dalam rangka mengabdikan seluruh usia pada Rabb Yang Maha Pencipta, Allaah Swt.

Guru adalah sosok pendidik dari sekian banyak profesi yang memiliki istilah sebutan profesi pendidik di dalam dunia pengembangan diri peserta didik.

Guru memiliki tujuan utama mencerdaskan kehidupan siswa agar lebih baik dari pada diri guru sendiri, karena guru mearasa bahagia manakala siswanya dapat memperoleh derajat; prestasi dan status di kalangan manusia, sebagai anak didik yang berguna bagi orang lain. Guru senang melihat anak didiknya mencapai derajat itu di masa kini dan masa datang, sebaliknya guru sedih melihat anak didiknya belum dapat mencapai derajat yang kurang dapat menyumbangkan gagasan dan buah tangan untuk sesama manusia. Guru mendengar anak didiknya telah berhasil menyenangkan orangtuanya saja akan merasa terharu dan mengucap syukur karena telah diberikan kesempatan oleh Allaah Yang Maha Kuasa menakdirkannya menjadi seorang yang berperan serta mendidik siswa di muka bumi ini. Hal ini merupakan rejeki, sekaligus nikmat baginya sebagai hamba yang bertugas untuk mengabdi kepada Allaah Swt dalam dunia pendidikan.

Sepanjang jalan kenangan siswa dan masyarakat, guru akan dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, namun dikenal sebagai pendidik dengan ragam karya pendidikan nyata, oleh karenanya guru dihormati dan diberi ucapan rasa terima kasih oleh penghuni dunia yang merasakan pendidikan melalui keikhlasan perjuangan profesional sang guru.

Suka duka guru di dunia ini hanyalah episode hidup sementara, sekejap dan tak sebanding dengan kehidupan akhirat yang akan diperolehnya kelak, syurga mengajaknya tuk menghuni rumah dan dipan-dipan yang dibawahnya mengalir sungsai-sungai indah, dan para bidadari pun cemburu akan keikhlasan guru di dunia yang didampingi oleh pasangan hidup sejiwa dalam menempuh jalan perjuangan kependidikan hanya untuk mendidik sesama manusia sebagai sarana ibadahnya kepada Allaah Swt.



BILAKAH AKU MENJADI

Bekerja sebagai guru dalam sekolah/madrasah bagaikan seorang perenang ahli mengarungi kolam renang di olimpiade renang tingkat dunia; seperti pasukan pejuang kemerdekaan di garis depan dalam medan tempur melawan penjajah Belanda dan imperialis Jepang di masa 1920 – 1945. Suatu kesempatan bekerja yang indah bagi kaum muda mendidik anak-anak tanah air di tanah tumpah darah yang satu ini, adalah menjadi seorang guru bangsa sejak peluang bekerja menjadi guru itu terbuka dan mengundang nurani tuk menyatu dengan kehidupan pendidikan.


Bekerja sebagai guru itu indah, sendah kala detik-detik kesempatan bagi guru tuk meneriakan pekik “reformasi pendidikan!” saat desakan reformasi 12 Mei 1998 merangsek ke gedung MPR DPR RI, karena guru hanya menginginkan bangsa ini meningkatkan kualitas hidup warga negaranya melalui lini pendidikan yang menopang ekonomi kerakyatan bangkit, bukan sebaliknya menuntut ekonomi bangkit dari kebodohan dan kealpaan karena tidak ada kesejahteraan yang tumbuh dari kebodohan berniaga dan lingkaran penipuan sebagai mata pencaharian. Tidak pula politik mulia akan tumbuh dari orang-orang bodoh atau kaum pengibul yang mengesampingkan kepentingan rakyat di negara bangsa ini. Maka dengan pendidikanlah, ekonomi dan politik suatu negara bisa tumbuh menjadi ekonomi sejahtera dan politik mulia. Tak heran, urgensi reformasi pendidikan adalah seruan, sekaligus konsep yang menghendaki adanya perbaikan pada penerapan pendidikan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini agar bebas dari budaya menyontek, bebas dari jual beli nilai, bebas dari korupsi dana bantuan untuk sekolah, bebas dari sunatan masal gaji atau tunjangan utuk guru dan bebas dari ketidakpedulian oknum guru saat seharusnya ia merencanakan pembelajaran untuk siswa dengan benar, melaksanakan pembelajaran dengan baik dan menilai pembelajaran pada siswa dengan adil serta memberikan perbaikan atas capaian hasil belajar siswanya.

Bekerja menjadi guru sekolah itu sangatlah melelahkan, namun terasa nikmat di saat setiap kali berangkat pagi dari rumah tinggal yang bisa jadi masih hak sewa, bersemangat menuju sekolah lebih dahulu hadir sebelum kedatangan para siswa, bersiap menyambut dengan sapaan dan tebaran senyum gurih di wajah bagi anak didik yang baru tiba di sekolah, adalah sangat nikmat. Belumlah tuntas nikmat itu, manakala pembelajaran akan dimulai dari kegiatan awal menuju kegiatan pokok pun guru sangat berhati-hati mengajar, melatih, memfasilitasi, menngingatkan, memilih metoda pembelajaran, menyampaikan tujuan pembelajaran, mengorganisasi siswa dan fasilitas belajar, memberi ijin siswa terlambat masuk atau siswa yang hendak meninggalkan ruang belajar, sampai menutup kegiatan belajar-mengajar bersama melambungnya nilai prestasi kognitif, afektif dan psikomotor anak didik yang telah bersama dirinya; saling belajar dalam situasi strategis pendidikan di sekolah. Sungguh luar biasa nikmatnya bekerja menjadi guru di sekolah, bahkan sampai hendak pulang, saat kaki melangkah lewat batas luar sekolah rasanya sudah rindu lagi ingin segera menyiapkan diri untuk kegiatan belajar mengajar esok hari di sekolah.

Guru bekerja menerjemahkan kurikulum, sejak dikenalnya kurikulum memiliki komponen; 1) tujuan; 2) isi; 3) metode; dan 4) evaluasi dalam mendidik siswa di sekolah dilakukannya dengan asyik, karena ia sedang berada di dunianya, bukan di dunia lain yang dirasanya sebagai beban, hingga ia tak merasa dipaksa, dijerumuskan, dijatuhkan atau sedang mengalami hukuman. Mana mungkin guru bekerja dianggap sebagai pekerja paksa atau tahanan yang tengah dalam hukuman bekerja memanggul keranjang berisi pecahan batu-batu di bawah terik matahari menyayat-nyayat kulitnya.Sebaliknya, guru merasa asyik, sangat asyik dalam dunia pendidikan. Guru itu menerjemahkan kurikulum untuk siswa seperti seorang prajurit hendak berhaji, dan ia sangat menikmati perjalanan, sekali pun harus menaiki kapal laut berminggu-minggu dan berjalan di padang pasir, karena ia yakin pada pekerjaan yang dilakukannya itu untuk mencapai suatu tujuan yang luar biasa berpahala dan berniai pengabdian pada Allah Swt.

Guru bekerja di hari ini membuat silabus yang belum lengkap; membuat program tahunan (prota) dan program semester (prosem) untuk melaksanakan tugas keguruannya di sekolah; menyusun Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk melengkapi syarat ketuntasan belajar siswa dan merekomendasikan kelulusan siswa; membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Rencana Kegiatan Harian (RKH) dan Satuan Kegiatan Mingguan (RKM); mengorganisasi siswa dan menyediakan sumber, alat, dan bahan pembelajaran bersama siswa; menata suasana ruang belajar dan kelengkapan manajemen pembelajaran untuk siswa; memilih model pembelajaran dan metoda pembelajaran dengan menggunakan keterampilannya menjadi pemimpin strategi belajar-mengajar dalam situasi pembelajaran bersama siswa; menyusun materi pokok pembelajaran yang berbobot mencerdaskan dan menyenangkan; menghidupkan suasana pembelajaran dengan pembelajaran berpusat pada siswa; membuat soal untuk penilaian hasil belajar siswa; menyusun kartu soal pilihan ganda, isian dan uraian; membuat kumpulan soal berupa bank soal; membuat analisis butir soal dan mengidentifikasi kekurangan serta kelebihan hasil belajar siswa; menilai proses dan hasil belajar siswa dan melaporkan perkembangan pendidikan siswa kepada siswa dan orangtuanya; membimbing siswa dalam bimbingan belajar dan karir; melakukan bimbingan kelompok dan individual; menghubungkan jalinan silaturahim kependidikan antara sekolah, siswa dan orangtuanya; memantau perkembangan kegiatan siswa di luar sekolah melalui kemampuan pengamatannya dan kabar dari masyarakat; memberi semangat dan arahan kemandirian untuk siswa menempuh ulangan harian, Ujian Tengah Semester, Ujian Kenaikan Kelas, Ujian Akhir Semester dan Ujian Akhir Kelulusan; mendo’akan siswa senantiasa dalam kebaikan dan jalan yang benar menempuh hidupnya sebagai generasi masa depan bangsa dan umat beragama.

GURU BERDAGANG

Luar biasa mulianya seorang guru yang mandiri, mampu berwirausaha, berani berdagang di tengah masyarakat dengan cara yang elegan, memikat dan menarik hati pembeli yang membutuhkan produk yang dijual oleh sang guru.

Misalnya, guru berdagang menjual produk suplemen kesehatan herbal yang terjamin kebaikan dan kehalalannya dari lembaga pengawas obat dan makanan serta lembaga kesehatan pemerintah di masa kini itu sudah jadi fenomena yang bagus dan layak untuk dihargai, karena kenyataannya sang guru itu berdagang tidak mengganggu senyumnya pada siswa, tidak mengganggu pola mengajarnya untuk siswa, tidak mengurangi kekhusyuannya membuat rencana pembelajaran, tidak merusak kemampuannya dalam mengorkestrasi kegiatan belajar mengajar yang semakin menarik bagi siswanya, dan tidak membuat dirinya lalai dari tugas menilai proses dan hasil belajar siswa sampai tuntas.

Guru berdagang itu hebat, apalagi bagi guru yang menjadi tulang punggung keluarganya, ini merupakan sarana beribadah lainnya dalam kehidupan seorang guru tanpa melemahkan tekadnya menaati kode etik keguruan yang melekat pada dirinya di sekolah atau madrasah tempat ia mendidik dan merawat calon masyarakat masa depan yang cerdas dan berkualitas dalam hidup.

Menjadi pedagang, bagi seorang guru atau sekelompok guru yang tengah menjadi tulang punggung keluarganya itu, manakala tetap menjaga kestabilan pelaksanaan tugas keguruannya tetap dalam kondisi prima dan prestatif, itu adalah kegiatan ekonomi inovatif masa kini yang harus dilestarikan.

Guru boleh menjual jasa atau produk di luar jam tugasnya, guru bisa menjual makanan jajanan sehat 3B; bergizi, berimbang dan beragam. Guru bisa menjual kain sarung kepada tetangganya, menjual parcel kiriman dengan kemasan memikat kepada warga sekitarnya, menjual padi hasil panen sawahnya, menjual domba atau kambing hasil ternaknya, menjual singkong dan bawang hasil tanamnya. Guru bisa menjual jasanya menggambar pola baju dan menjahit pakaian untuk warga, menjual jasa loundry pakaian, menjual jasa pembayaran rekening listrik, telepon dan air, menjual jasa pembuatan biodiesel, menjual jasa pembuatan mikrohidro untuk pembangkit listrik desa, menjual jasa pertukaran uang emas dan lainnya.

Lebih mutakhir! Guru membuka jasa konsultasi pendidikan dan pembelajaran di rumahnya atau tempat khusus; semisal kantor konsultasi manajemen pembelajaran, konsultasi kesulitan belajar, konsultasi pola belajar anak, bahkan mengadakan pusat bimbingan keguruanbagi sesama guru pun itu merupakan sebuah terobosan di tengah munculnya ide kebanyakan orang tentang pengadaan pusat pelatihan guru.

Perlu diperhatikan oleh para guru, bahwa kisah sekeompok guru yang mengadakan bimbingan dan pelatihan kepada sesame guru dengan mengedepankan prinsip pelayanan itu sungguh nyata lebih baik dari pada sekedar membuat uang sebagai prioritas.Mereka berhasil melayani sesame guru dan masyarakat umum tentang aneka ragam teknologi pembelajaran, metode dan model pembelajaran yang sangat manusiawi, terjangkau dan lebih mengutamakan sedekah alias beramal baik; banyak memberi dari pada menuntut dengan syarat.Bahkan sangat banyak manfaat diperoleh mereka dalam hidup sejalan dengan aktifitas mereka menolong orang dari kesulitan, bukan mendorong orang ke dalam kesulitan. Artinya jangan sampai menjual jasa di bidang pendidikan untuk sekedar mencari uang karena itu tidak akan membawa manfaat sukses hidup berbisnis yang double degree; world class degree and akhirah class degree.

GURU BERJUANG

Guru itu pejuang pendidikan, prajurit di medan juang, pasukan di garis depan, infanteri dalam problematika kesulitan belajar siswa baru. Sedangkan kepala sekolah atau madrasah adalah komandan, pemerintah bagi pasukan yang selalu siap sedia berjuang untuk memenangkan pencapaian prestasi untuk kemerdekaan siswa karena tercapainya prestasi siswa itu adalah makna perjuangan guru. Guru berjuang, siswa merdeka.

Membuat catatan tentang hasil kerja setelah tugas mengajar di sekolah tuntas adalah mencatat diari perjuangan. Guru akan membuat refleksi dari catatan akhir pelajaran setiap hari, bukan setiap tahun saja. Guru melihat dengan mata hati sendiri, “apakah kekuranganku hari ini mendidik anak?”

Guru hebat, sesaat setelah menyadari kekurangannya, ia berdoa’a berharap pada Allaah Swt agar diberi petunjuk tuk memperbaiki diri, diberi kekuatan tuk mudah bangkit dari kekurangan menuju peningkatan, berpindah dari keselahan menuju kebaikan dengan perbaikan diri. Guru pejuang tak rela berhenti memperbaiki diri, ia tegas menyatakan diri sebagai pejuang, dan ia jelas menyatakan sikap dan perilaku dengan terus berjuang memperbaiki diri untuk memperbaiki tugas mendidiknya kepada siswa dan melayani kepentingan sekolah dalam pandangan manusia tuk memberi tauladan, sekaligus berjuang untuk pendidikan manusia sebagai ibadah dalam pandangan Allah Yang Maha Menyaksikan, dengan harapan semoga tetap dalam keikhlasan berbuat demikian.

GURU BERPETUALANG

Petualangan bagi guru adalah sebuah kehidupan melalui ragam tantangan dari satu tingkatan ke tingkatan lainnya, progresifitas dalam dinamika pengalaman mendidik siswa. Berangkat sebagai guru dari kota menuju desa bukanlah kisah yang biasa didengar oleh kebanyakan orang karena jarang sekali orang kota yang adalah guru beramai-ramai setiap tahun diangkat dan ditempatkan di desa pada jaman komersialisasi pendidikan saat ini. Tapi, petualangan bagi guru kota ke desa itu sungguh mengesankan seperti kesan saat mahasiswa berbondong-bondong kuliah kerja nyata setara ABRI masuk desa membantu masyarakat memperbaiki sarana dan melakukan penyuluhan, khusus bagi mahasiswa kependidikan, mereka siap dan telah mengarahkan diri untuk menorehkan sejarah dalam lembaran hidup mereka tentang menjalani hari-hari, membimbing anak-anak belajar mengaji dan mengembangkan kompetensi diri dalam ragam pelajaran sekolah, serta tak lupa memberikan games dan simulasi yang sering mereka dapatkan di perguruan tinggi.

Guru berpetualang dari kota menuju desa terpencil pun seakan luar biasa, selain sensasional, namun sebenarnya mengandung makna spiritual, dimana sang guru merasakan nikmatnya beribadah dengan cara mendidik anak-anak di lokasi terjauh, wilayah yang tak terlihat dari atap loteng tertinggi rumah mewah sekali pun, bahkan tak bisa dijangkau dengan pandangan mata langsung dari atas gedung tertinggi di tengah pusat kota. Pada wilayah hening, tak satu pun terasa bising, dimana hembusan angina sesungguhnya dianugerahkan Allaah di alam pedesaan yang terlindungi dari polusi udara mengisi rongga paru-paru setiap warga di desa, guru merasa tidak terganggu oleh kata “terpencil” yang diartikan sebagian orang sebagai “jauh dari mini market” atau “tidak ada hiburan.” Setiap hari indah nan ramai dengan suara alunan musik alam desa dan warganya, khususnya suara anak-anak di sana itu mejadi penjernih rasa bagi guru yang bertualang hendak menuntaskan tantangan sebagai pendidik di desa terpencil hingga tuntas, bahkan jika telah berhasil mendidik anak-anak di tanah itu, maka sang guru petualang pun hendak mencari desa terpencil lain yang ada di negara penyandang kota zamrud khatulistiwa ini. Semakin bisa guru itu menyelesaikan tugasnya di setiap hari jam pembelajaran dan jam kerjanya di sekolah atau madrasah warga desa yang ada, maka semakin banyak ia rasakan kenikmatan beribadah dengan mendidik anak-anak negeri yang juga memerlukan pendidikan. Suka duka, betah tak betah bagi guru di sana akan jadi hal biasa saja, kedua rasa itu adalah ujian yang adalah tantangan untuk diselesaikan dengan aplikasi kerja dalam keadaan tetap beriman. Tidak boleh ada catatan sejarah dalam diari kehidupannya, bahwa ia harus menyerah pada keadaan dan berputus asa dari Tuhan karena hak mendapat kesejahteraan tak juga datang ke pangkuan. Walhasil, sang guru meningkatkan kapasitas dirinya dari sekedar terampil mengjar, menjadi terampil pula dalam bertahan hidup. Bagi guru petualang, hidup mendidik di desa terpencil adalah biasa saja, sedangkan bagi para calon guru dan masyarakat umum di perkotaan, kisah guru petualang adalah hal yang luar biasa menjadi inspirasi bagi mereka.Tak jarang ada saja orang yang tertarik untuk menjadi guru petualang.

Guru mengajar di dalam penjara sebagai pendidik yang berkontribusi untuk memasyarakatkan kembali para tahanan agar menjadi manusia yang siap bermasyarakat. Guru membuat kurikulum pendidikan khusus untuk para napi agar aktifitas mereka produktif, menghasilkan ide dan karya yang bisa dijadikan bekal menuju kebebasan mereka keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) menuju lingkungan masyarakat yang sesungguhnya lagi. Guru benar-benar menghayati arti kata “pemasyarakatan” yang mengharuskannya menjadi pendidik yang bisa melatih dan membimbing para peserta didiknya dari kalangan napi itu menjadi warga negara yang siap kembali menjadi masyarakat, taat beragama dan taat hukum di NKRI ini.

Guru petualang tentu sangat tertantang mewujudkan “masyarakat membaca” di dalam komplek penjara dengan menyediakan waktu untuk para peserta didiknya agar melatih kebiasaan membaca mulai dari memberikan motivasi dan pelatihan menyenangi buku bacaan sebagai kebutuhan mencari bekal informasi berharga yang dapat dijadikan masukan bagi munculnya ide dan karya bernilai. Guru membuat propaganda dan terus belajar beretorika dengan tujuan menyiapkan peserta didiknya menjadi orang-orang berwawasan tinggi, terampil dan pandai mengakselerasi diri mengelola informasi berharga untuk menjadi wirausahawan atau pekerja tauladan, bukan lagi pesakitan yang kelak terbiasa keluar masuk bui.

Wilayah rawan konflik dan area perang adalah surga bagi para guru petualang dengan niatnya yang tulus, dimana tantangan menjadi semakin menarik karena hadiahnya pun luar biasa tak ternilai, melebihi harta temuan dan kenaikan pangkat atau jabatan. Pada wilayah berhamburannya debu-debu bercampur darah dan air mata, guru menjadi prajurit dengan seragam infanteri yang pangkatnya cukup setingkat letnan dua; tersemat pada sisi lengan kanannya lambing pena dan buku. Guru mengisi hari perjuangan di medan tempur dengan senjata pelawan kebodohan; membuat anak-anak yang trauma menjadi padai bercerita, menggambar, mewarnai, menyusun gambar, menari, bernyanyi, berlari-lari sambil tertawa dan bercanda pun untuk membuat anak-anak di sana lepas dari rasa khawatir, cemas, takut dan trauma berkepanjangan.

Guru di medan perang menyirami harapan dan semangat baru yang tumbuh dalam hati setiap anak didiknya di tenda-tenda pengungsian dan bunker perlindungan. Ia memanfaatkan setiap kesempatan doktrinasi tentang pentingnya tidak menindas, tidak menganiaya dan tidak membunuh sebagai indikator dari kompetensi dasar tersembunyi yang hendak ia ajukan kepada anak-anak didiknya agar mereka tidak menjadi seperti para penggemar perang dan pemuja berhala dunia. Ia belajar untuk tetap tenang dan terus beradaptasi dengan situasi di area perang dengan cara memodifikasi kurikulum untuk anak didiknya. Ia merumuskan model pembelajaran dan strategi belajar megajar yang senantiasa dituntut situasi agar progresif mengembangkan kompetensi diri anak didiknya.

Guru sangat sadar akan kondisi semua siswa di medan perang itu tidak berkelas-kelas seperti di sekolah atau madrasah yang ada di wilayah tenang tanpa peperangan, tidak semua siswa jumlahnya bisa dikategorisasi dengan konteks kelas usia dini dan kelas I sampai dengan XII, bahkan tak jarang rasio antara guru dan siswa pun ada yang 1:3 atau 1:35. Hal penting bagi guru adalah mendidik siswa sesuai kemampuannya guna meraih kesuksesan hakiki di dunia dan akhirat, meski kematian menjemputnya, ia tentu mengharapkan syahid fii sabiilillaah.

GURU MELAWAN

Mengatakan tidak pada perintah yang memaksa guru melakukan hal yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur dari agama yang dianutnya adalah bentuk pengabdian diri sang guru pada Allaah Swt.

Guru yang tidak mau menghapus setiap jawaban salah dan tidak mau mengisi bulatan pada Lembar Jawaban Komputer (LJK) yang telah diisi siswa sesaat setelah Ujian Nasional tahun 2006 berakhir adalah mereka yang hendak melawan bisikan menyesatkan. Para guru yang melawan terhadap perintah untuk melakukan kecurangan demi citra sekolah dan citra kota atau kabupaten itu merupakan guru mulia yang diharapkan tetap ada sepanjang masa.

Guru sangat dihargai jasanya karena berani mengatakan kalimat perlawanan terhadap penguasa yang gemar memberikan perintah tak sesuai nilai hukum positif dalam sebuah negara. Perlawanan guru tak hanya dimuat dalam tulisan artikel, tapi dikemukakan di hadapan masyarakat dengan seruan-seruan aksi, demonstrasi turun ke jalan, seperti saat mereka menuntut kepada suatu pemerintahan di tigkat daerah untuk segera mencairkan tunjangan fungsional guru yang ditahan oleh penguasa daerah itu. Guru tidak menjadi cemoohan karena membela hak-haknya dengan cara bermartabat seperti berdemonstrasi; beraksi turun ke jalan; atau protes masal semacam itu pada waktu tertentu. Mereka bukan berniat mogok masal tidak bekerja dan tidak mendidik siswa, bukan pula menekankan syarat “bayar dulu, baru kami bekerja.” Itu bukanlah mereka karena mereka tengah menuntut hak yang telah dilanggar oleh penguasa dan esok hari mereka akan mengajar seperti biasa lagi, namun tetap bersiap melancarkan aksi-aksi dalam bentuk baru jika diperlukan guna mencairkan uang tunjangan fungsional yang menjadi hak mereka.

Guru melawan tirani di sebuah negeri terkadang melalui tulisan di buku atau koran-koran yang memperjuangkan hak rakyat mendapatkan keadilan, kebaikan dan kesejahteraan seperti Hamkadi masa pra-kemerdekaan menuliskan catatan penting untuk mendidik masyarakat agar bersatu padu melawan penjajahan.

GURU DERMAWAN

Separuh lebih penduduk dunia ini mengenal arti kata “dermawan” dalam bahasanya sendiri, pun guru yang telah meresapi arti kata itu menjadi perbuatan, tak henti-hentinya ia gemar berbuat baik, memberikan bantuan dan petolongan materil atau non materil kepada sesama, khususnya kepada anak didiknya.

Dalam lingkungan sekolah, bila terdapat sampah diluar tempat sampah, guru dermawan tak sungkan memungut dan mebuangnya ke tempat sampah. Apalagi jika sampah dan tempatnya sesuai, maka ia akan menaruh sampah itu di bagian organik atau anorganik sesuai jenis sampah itu. Bila di kamar mandi sudah tidak terdapat gayung, maka guru dermawan berupaya mencari gayung atau bila memang sudah tidak ada di sekolah, ia akan berencana membeli gayung dan menyimpannya di kamar mandi sekolah. Apabila guru dermawan menemui seorang siswa yang sukar membayar uang Sumbangan Pengembangan Pendidikan (SPP), maka guru pun tak jarang turut mencarikan atau memberikan bantuan uang bagi siswa tersebut agar tetap dapat mengalami pendidikan formal di sekolah.

Guru dermawan tidak pelit memberikan nilai bagi anak didiknya yang memang pantas mendapatkan nilai itu. Baginya, memberikan nilai sesuai kadar prestasi siswa adalah memberikan hak siswa, namun ia pun tak lupa memberikan senyuman sebagai sedekah untuk semua siswanya, ia tak lupa mengucapakan kata motivasi, ia tak enggan mengucap terima kasih atau memberi maaf pada siswanya.

Guru yang dikenal tanpa tanda jasa itu sesungguhnya adalah citra hasil dari perilaku guru dermawan yang tulus dalam memberikan layanan pendidikan kepada siswa dalam suka maupun duka, dalam keadaan sempit maupun lapang.

Guru dermawan mengoptimalkan amalnya dengan keyakinan, “Allaah akan selalu menolong seluruh hamba-Nya. Dan apa pun kebaikan yang saya lakukan itu semua adalah takdir kasih dari Allaah Yang Maha Baik”



Penulis Buku  : Ridza Gandara
Courtesy from : Konsultan Sekolah Islam (Catatan Facebook) 
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment